Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

brekdance

Minggu, 24 November 2013

Breakdance, breaking, b-boying atau b-girling adalah gaya tari jalanan yang muncul sebagai bagian dari gerakan hip hop di antara African American dan anak muda dari Puerto Rico yang dilakukan di bagian selatan New York City yang brutal pada tahun 1970. Pada Umumnya tarian ini diiringi lagu hip hop,rap, atau lagu remix (lagu yang di aransemen ulang).
Seorang breakdancer, breaker, b-boy atau b-girl adalah orang yang memainkan gerakan breakdance.

Asal Mula: Dari Jalan Menjadi Tarian


Breakdancer sedang melakukan gerakan turtle.
Breakdance mulai menunjukan geliatnya ketika DJ Koll Herc mulai menghasilkan musik yang sedikit berbeda dengan musik-musik pada zaman dulu. Sebuah musik Hip Hop dengan beat yang patah-patah atau biasa disebut dengan break beat yang berjasa dalam menghasilkan musik yang dapat menginspirasi para breaker menciptakan gaya-gaya yang atraktif dan unik. Selain sebagai DJ yang menciptakan sebuah musik yang sangat pas untuk breakdance, Koll Herc juga termasuk salah satu senior di dunia musik Hip Hop. yang pada saat itu rela menjadikan tempat tinggalnya sebagai markas untuk komunitas ini.
Michael Jackson adalah orang yang mendorong pertumbuhan Breakdance. Michael Jackson mulai memperkenalkan robot dance atau gerakan yang menyerupai robot pada lagu-lagu yang dibawakannya pada tahun 1974 di penampilan perdananya di televisi. Selain itu, di setiap penampilannya Michael Jackson juga selalu membawakan berbagai macam gerakan yang cukup melegenda, salah satunya ialah moon-walk. Michael Jackson juga selalu menemukan tarian-tarian baru yang membuat siapa saja yang melihatnya langsung penasaran dan mencoba mengikuti gerakan yang dibawakannya. Pada saat itu memang hanya Michael Jackson yang cukup melegenda dengan tarian-tarian yang langsung menyebar seperti virus dan membuat orang-orang berusaha mengikuti gerakan-gerakan yang dibawakanya.
Jika dilihat lebih jauh, jenis tarian ini telah lahir jauh sebelum Michael Jackson tampil di pertunjukan yang menghebohkan dengan robot dance-nya tersebut. Sang legenda musik Funk James Brown telah menunjukan sebuah tarian yang sedikit banyak juga memiliki gerakan yang mirip dengan breakdance.
Perkembangan jenis tarian yang satu ini pun sangat pesat, bahkan beberapa komunitas di Amerika mulai terbentuk. Pada tahun 1980'an, breakdance sudah menjadi seperti fashion di Amerika. Hampir di setiap malam di beberapa bagian kota terdapat beberapa komunitas yang saling menunjukan kebolehannya dalam melakukan jenis tarian ini, walau tidak sedikit yang berujung pada keributan. Cara mereka berkompetisi memang sangat mirip dengan freestyle yang biasa ditemukan pada musik Hip Hop. Tidak hanya di jalan-jalan saja tarian ini ditemukan, karena club dan party pun menjadi lahan empuk bagi para breaker untuk menunjukan kebolehannya.
Setelah sempat menjadi "sampah" di beberapa tempat umum tersebut, akhirnya breakdance mulai menunjukan kelasnya. Pada akhir tahun1980, mulai banyak kompetis breakdance yang resmi bermunculan dan Battle Of The Year merupakan salah satu kompetisi yang sangat berkelas. Kehadiran kompetisi ini langsung diikuti dengan berbagai kompetisi lainnya yang seara tidak langsung mengangkat kelas jenis tarian ini.

Tarian


Seorang Breaker dalam posisi downrock.
Toprocks menampilkan gerakan yang membtuhkan fleksibilitas, gaya , dan yang paling penting irama. Tarian ini biasa digunakan pada awal pertunjukkan sebagai pemanasan beberapa gaya akrobatik lain. Dowrock biasanya ditampilan dengan posisi tangan dan kaki pada lantai. Pada downrock, seorang breaker menampilkan perputaran tubuh dengan kecepatan kaki dan kontrol dengan cara mengkombinasi gerakan kaki. Kombinasi ini akan menampilkan gaya yang disebut power moves;;
Power Move adalah gerakan yang membutuhkan momentum dan kekuatan fisik untuk menjalankannnya. pada power move, breaker lebih bergantung pada kekuatan tubuh bagian atas untuk menari, menggunakan tangan untuk bergerak. Power Move terdiri dari Windmill, Swipe, dan Flare. Beberapa gerakan meminjam dari bela diri seperti buttertfly kick.

Sebuah gaya handstand dengan satu tangan ,biasanya digunakan sebagai bagian freeze.
Freeze adalah menahan gerakan dengan pose yang bagus. Semakin sulit freeze, membutuhkan kekuatan tubuh breaker untuk menahan dirinya, dengan pose seperti Handstand .
Suicide adalah tarian penutup sebagai kebiasaan breaker. Breaker akan membuat dirinya terhilat kehilangan kendali dan jatuh dengan punggung, perut, dll. Semakin sakit penampilan suicide terlihat, semakin bagus tarian tersebut, tetapi breaker akan melakukannya dengan sebuah trik untuk mengurangi sakit. Biasanya tarian ini juga digunakan untuk menarik penonton setelah gerakan freeze.
Pertandingan kompetisi antar breaker dilakukan di arena terbuka(pada panggung atau sebuah lapangan). Pemenang ditentukan dari kombinasi dari berbagai variasi gaya.

Pada budaya Pop


Sebuah kartun memperagakan Breaker yang melakukan gerakan freeze, di sebelah tape.
Walaupun, breakdance dimulai pada golongan muda di gang jalanan. Sekarang, budaya breakdance menjadi sebuah disiplin yang baru di antara penari dan atlet. Budaya breakdance sekarang bebas dipelajari oleh ras, jenis kelamin , umur apa saja dan diterima secara mendunia.

Pandangan Dunia

Musik

Musik menjadi salah satu elemen penting dalam breakdance, karena para breakers tentu tidak akan bisa menari tanpa musik. Bahkan kadang-kadang musik-musik yang seru dapat menjadi sebuah inspirasi tersendiri bagi para breakers ini. Musik-musik dengan irama break beat merupakan menu wajib di sini, yaitu dengan campuran musik-musik lain seperti Jazz, Soul, Funk, Electro, Electro Funk, Disco, Hip Hop, sampai R&B. Musik-musik ini tidak dibiarkan murni begitu saja, karena ada DJ yang bertugas mengolah musik tersebut sehingga akan terdengar sangat serasi dengan gerakan-gerakan yang ada.
Tempo pada musik yang dimainkan disini berkisar antara 110 hingga 135 beats per minute (BPM), sedangkan di Eropa sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Amerika. Kalau di Amerika para breakers menggunakan black music untuk mengiri tarian mereka, maka Eropa memilih jenis musik electronica dan rock untuk mengiringi mereka. Musik yang berbeda tersebut menjadi sebuah warna tersendiri di dunia ini, dan gerakan-gerakan yang mereka mainkan pun terlihat lebih extreme dibandingkan dengan gerakan para breakers yang menggunakan musik-musik pada umumnya.

Fashion


Breaker sedang melakukan headstand.
Bagi para breakers, selain musik, fashion atau wardrobe juga bagian yang sangat penting, karena menurut mereka fashion merupakan identitas diri mereka sendiri. Breakers pada tahun 1980'an memilih brand Adidas, Puma atau Fila untuk sepatu yang mereka gunakan, karena sepatu dari brand ini memiliki tingkat kelenturan yang sangat nyaman dan cukup menunjang mereka dalam melakukan gerakan-gerakan pada tarian ini. Beberapa breakers bahkan sengaja menggunakan topi, t-shirt dan sepatu dengan brand yang sama sehingga terlihat lebih serasi. Sebagai aksesori tambahan beberapa Breaker membawa tape sebagai pemutar musik. Pada akhir-akhir ini para b-boys juga sering mengenakan kostum seperti b-boys pada era tahun 80'an, karena fashion para b-boys pada tahun tersebut benar-benar sangat nyaman dan cukup sederhana, sehingga mempermudah ruang gerak mereka.
Selain identitas dari para b-boys, ternyata beberapa atribut yang mereka gunakan ini juga memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pelindung ketika mereka melakukan gerakan-gerakan yang cukup extreme. Walaupun berfungsi sebagai pelindung, namun tetap saja bagian dari fashion ini sangat menarik untuk diperhatikan dan tentunya tetap menunjang fashion dari para b-boys tersebut. Headwear seperti helm skateboard atau topi menjadi pelindung kepala mereka ketika melakukan gerakan headspins (berputar dengan kepala sebagai tumpuan dan kaki diatas). Selain itu bandana yang mereka kenakan pada kening mereka juga berguna untuk menahan rambut mereka sehingga tidak menutupi mata mereka ketika sedang menari.
Indonesia pun nampaknya tidak kalah dalam jenis tarian ini. Beberapa breakers di Indonesia juga pernah menjuarai kompetisi-kompetisi breakdance yang diadakan di luar negeri.

Breakdance sebagai tarian rakyat

Ada beberapa akademisi yang tertarik apakah Breakdance bisa disebut sebagai tarian rakyat. Yang pada aslinya berasal dari Angola yang dibawa ke Brazil melalui perdagangan budak.

Ekspos media

Pada 1980, dengan bantuan budaya pop dan MTV, breakdance dibawa dari Amerika menuju bagian dunia yang lain sebagai fenomena budaya yang baru. Musisi seperti Michael Jackson populer karena beberapa gaya breakdance di video musik, dan film seperti Flashdance, Wild Style, Beat Street, Breakin', dan Breakin' 2: Electric Boogaloo yang juga mendukung penampilan breakdance. Sekarang, banyak b-boy dan b-girl tidak senang media karena perubahan fokus breakdance untuk uang dan berlebihan menggunakan power move. Breakdance juga di buat pada dokumenter film: The Freshest Kids: A History of the B-Boy, film ini merekam budaya, asal, perubahanm dan gaya-gaya breakdance diiringi musik Hip Hop.

Kontroversi

Dengan tujuan rekreasi dan hiburan, tarian ini tidak mempunyai perdebatan atau kontroversi.

Asosiasi Geng

Orang sering menyatakan bahwa breakdance menggantikan pertarungan antara geng jalanan, karena beberapa percaya sebuah konsepsi yang salah mengenai b-boy yang memainkan peran mendamaikan persaingan antar geng. Keributan antar geng kelihatannya menjadi sebuah kontroversi pada awal sejarah breakdance.

Resiko Cedera

Breakdance mempunyai risiko cedera karena terlalu banyak berlatih atau tanpa pengawasan profesional. Breaker pemula harus berlatih dengan pengawasan profesional untuk mengurangi risiko cedera.

poetry battle of jogja hiphop foundation

Kamis, 21 November 2013














Re-imagining hiphop : note of Margue Vanguard a.k.a ucok homicide

Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide / Trigger Mortis
Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide / Trigger Mortis
Suatu hari tiga tahun lalu seorang kawan meminta saya untuk menulis soal Hiphop lokal untuk sebuah majalah tempat ia bekerja. Namun dengan sangat menyesal saya tidak bisa menulisnya. Saya berfikir dia meminta saya pada waktu yang salah (saat itu mungkin bisa disebut puncak kebosanan saya dengan hiphop, terlebih hiphop lokal). Akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menulis ini sebagai gantinya. Dua hari kemarin seorang kawan yang lain datang mengobrol perihal kejumudan, progresifitas dan hal-hal tak penting lainnya seputar scene lokal. Saya teringat lagi tulisan ini. Akhirnya saya putuskan untuk di-share ulang disini meski beberapa poin masih relevan dan beberapa lainnya tidak.?
Re-Imagining Hiphop

“We went from nuttin to somethin, bein real and not frontin
Growin up and we comin, up the ladder not bummin
Hip-Hop in the media, y’all know it’s wack
But just like them dopefiends who keep comin back”
KRS-One – “Hiphop
Dengan berat hati saya tidak dapat menulis sesuatu perihal hiphop di tanah air yang akan sangat terlalu dibuat-buat bila dipaksakan. Bukan karena tidak menghargai apa yang telah dilakukan oleh praktisi kultur ini di tanah air, namun karena betapa tidak ada apa-apanya dua dekade lebih perkembangan (artistik atau lainnya) hiphop di tanah air dibanding belahan tanah berpopulasi lain di bagian lain dunia ini. Di luar persoalan kuantitas album hiphop pertahun di Indonesia yang cenderung meningkat, hiphop Indonesia hampir bisa dikatakan tak kemana-mana. Kesadaran estetika dan kultural-ekonomi yang jauh dari sadar, pula seputar ritual budaya –yang seharusnya membebaskan –tak pernah keluar dari wacana pasar dan pasar (yang tentunya bukan barang haram namun menyebalkan jika dijadikan parameter utama valid-nya sebuah kultur).
Entah dimana letak masalahnya, namun bila diizinkan saya berasumsi, mungkin ini semua berakar pada usaha pemaknaan sebuah kata yang berujung pada keterbatasan imajinasi yang akan sangat fatal bila dikaitkan dengan sesuatu yang imajinatif, kaya akan imajinasi seperti hiphop. Mungkin ini akan terdengar seperti membual-bual namun saya ajak kawan membayangkan sedikit saja.
Lahir di NY di akhir 70an, hiphop tentu saja bukan ‘Hiphop’ ketika Kool Herc membeli dua buah piringan hitam yang identik sama untuk kemudian ia putar di pesta-pesta komunitas yang haus hiburan namun tak pernah punya cukup uang untuk menyewa club. Bisa pula kalian bayangkan, hiphop bukanlah ‘Hiphop’ yang kalian kenal (apapun itu) hari ini, saat beberapa pembawa acara pesta jalanan memulai ritual MC dengan menyapa crowd dan memanfaatkan mic untuk hura-hura karena instrumen musik sukar diakses, atau mungkin pula saat sekumpulan anak muda brengsek menari kejang-kejang melawan arus dansa-dansi disco yang membosankan. Pula saat seorang bomber bernama SuperKool mengganti caps standar pada spraycan dengan sebuah fatcap untuk dapat membuat graffiti blockbuster yang kemudian hari menghiasi kereta-kereta NY di tahun-tahun sesudahnya. Juga saat Grand Wizard Theodore menemukan teknik scratch, membolak-balik piringan hitam. Saat itu hiphop bukanlah ‘Hiphop’, hiphop masih berupa imajinasi liar tak terkendali yang datang dari hasrat dan kebutuhan yang membebaskan di tengah segala keterbatasan.
Seperti proyek kultural lain yang belum pernah benar-benar selesai –dan mungkin pula tak pernah terpikirkan telah dimulai– Hiphop, saat itu tentu saja belum memiliki stigma-stigma, imaji, gimmick, bullshit atau apapun yang melekat pada ‘Hiphop’ hari ini. Mungkin oleh karena itu lah, hiphop di awal 80-an hingga awal 90-an begitu imajinatif, ekspresif, menyegarkan, liar, membangkang dengan intens dan tentu saja menghibur dan menginspirasi. Saat itu, industri masih jauh dari tertarik pada kultur yang hari ini dapat menghasilkan milyaran dollar AS per tahunnya. Mungkin itu pula alasan mengapa begitu beragamnya suara dari kultur ini pada 10 tahun awal kelahirannya. Karena pada titik awal sebuah petualangan, hiphop tidak pernah memiliki blueprint, sesuatu yang bertolak belakang hari ini ketika ‘trend’ adalah parameternya, dan ‘pasar’ adalah panglima.
Saat Afrika Bambaataa memulai mengorganisir komunitas para DJ, MC, Breakers dan Bombers untuk berbuat sesuatu di ghetto-ghetto mereka, hiphop masih belum memiliki ‘judul’. Mungkin karena itu pula mereka membuat lagu bertitel ‘Renegades of Funk’. Sebagai salah satu pelopor hiphop, Bambaataa bisa saja memberi judul lagu itu ‘Pioneers of Hiphop’, namun saya yakin Bambaataa tidak lah melihatnya demikian, paling tidak, tidak saat itu. Bambaataa tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka lakukan merupakan awal sesuatu yang baru namun lebih merupakan sebuah usaha pembangkangan terhadap musik pendahulu mereka, Funk, yang pada saat itu mencapai titik jenuh. Renegades of Funk, para pembangkang ‘funk’.
Kata-kata memang kadang membebaskan namun pula memenjarakan ketika ia sudah mencapai status totem. Di hari Bambaataa men-sample Kraftwerk tak pernah satu media pun bilang bahwa Bambaataa melakukan hal yang ‘eksperimental’, di hari DJ DST berkolaborasi dengan the Last Poets tak ada yang menyebutnya dengan ‘nyeleneh’. Saat N.W.A meledak, media lah yang paling ganas menamai fenomena mereka sebagai gangster-rap, sama halnya saat Public Enemy menggetarkan dunia dengan “It Takes A Nation…”-nya, tak pernah ada yang namanya political hiphop, yang ada hanya hiphop, and thats the way it was. Hiphop yang selalu berarti petualangan, pengembaraan ‘berbahaya’ di medium apapun anak muda NY saat itu gemari. Entah mengapa terminologi itu hari ini dianggap ‘eksperimental’, keluar jalur’, ‘tidak lazim’, seolah memang ada sesuatu yang ‘seharusnya’ dalam memaknai hiphop, terlebih hidup dan keterasingan yang coba direpresentasikannya.
Hiphop, mungkin, seperti layaknya produk kultural lainnya, sudah selayaknya dibiarkan menjadi sebuah ide dan imajinasi terbuka. Ia harus tetap liar dan terbuka untuk kemungkinan apapun. Dengan kondisi seperti itu, kita akan berkesempatan menjumpai beragam wujudnya dalam bentuk yang terburuk sekaligus yang terindah. Kita pernah menyaksikan hiphop berwujud musik generik butut tak ada ampun seperti 2 Live Crew atau MC Hammer, namun kondisi itu pula yang melahirkan hiphop masterpiece dari Public Enemy hingga Nas. Seperti halnya tembok polos tanpa otoritas, akan sempat melahirkan coretan tagging nama geng motor yang tak akan pernah bisa dibilang bagus, namun pula akan melahirkan piece graffiti berwarna pelangi yang akan membuat kalian menghentikan kendaraan dan berdiri di depannya tertegun selama beberapa menit, atau mungkin jam. Ini akan sangat berbeda ketika kalian menyaksikan piece serupa di sebuah event ‘street art’ bersponsorkan korporasi rokok raksasa yang memaksakan kalian definisi ‘seni jalanan’ tadi ke sebuah wilayah pemaknaan yang sempit. Sama halnya dengan adrenalin yang menghilang ketika kalian menyaksikan breakdance tak lagi menarik meski ditampilkan dalam suguhan ‘battle’ di sejumlah event televisi yang selalu begitu-begitu saja.
Seperti halnya fenomena luar biasa lainnya di dunia ini, hiphop adalah potret sebuah usaha keluar dari keterasingan dan kebosanan. Namun sama nasibnya dengan Rock N Roll dan Punk yang tereduksi menjadi sekedar ‘Rock N Roll’ dan ‘Punk’, hiphop hari ini tak lebih dari sekedar ‘Hiphop’. Tak lagi menyegarkan, kadang menggelikan, seringnya amit-amit membosankan. Hiphop sudah selalu dianggap sesuatu yang ‘given’ alias ‘sudah dari sananya’. Persis argumen-argumen konservatif yang berfikir bahwa semua hal di dunia memang sudah begitu adanya, tak terbantahkan tanpa pernah terlintas di benak bagaimana sebuah proses tersebut terlahir.
Hiphop –atau apapun dalam hidup- seharusnya membebaskan, dari keterasingan dan kebosanan, pula memberi gairah tertentu pada mereka yang berkeinginan untuk hidup lebih dari sekedar hidup. Hiphop used to move me. But It doesnt move me anymore, i don’t even know whether i’m for it or against it.
Untungnya, hiphop selalu personal. Tak perlu dibela -bela absurd seperti nasionalisme, tak perlu dimanifestokan serupa ideologi usang dan tak perlu diusung junjung tinggi-tinggi seperti panji-panji partai di musim kampanye. Hiphop cukup serupa pakaian atau mungkin serupa tissue wc, serupa suara bit hook sekian detik dari tumpukan piringan hitam kusam yang kalian sample, yang kapanpun kalian dapat memakainya atau meninggalkannya. Dapat mencampurnya dengan lainnya atau membuangnya sama sekali. Tak pernah ada masalah.

Jogja hiphop foundation (NewYork)

Rabu, 20 November 2013

Mantra-Mantra Jawa di New York (sebuah catatan perjalanan)


Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York.
Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011.
Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif ini kepada publik di New York, mengingat JHF menggunakan lirik dan musik hip hop yang berpijak pada akar tradisi Jawa. Namun dengan komitmen yang tinggi dari Asia Society, sebuah institusi prestisius pertukaran seni dan budaya antara Asia – USA, akhirnya berhasil menghadirkan JHF di New York, sebuah group hip hop Indonesia pertama yang konser secara ekslusif di kota kelahiran musik hip hop.
New York bukanlah kota yang mudah untuk ditaklukkan. Namun New York juga kota yang sangat multikultur, dimana orang dari seluruh dunia ada di sana, dengan demikian New York bisa menerima dan menghargai perbedaan. Rachel Cooper, sebagai direktur program seni pertunjukkan Asia Society, mengkonfirmasikan kepada saya seusai pentas;
“Awalnya saya sempat khawatir dengan publik Amerika yang skeptis terhadap program ini, Java Hip Hop? So what? Tapi setelah pertunjukan merasa lega, karena JHF sangat pandai mengikis perbedaan dengan komunikasi yang dibangun diatas panggung”.
Mendengar hal itu, saya kemudian melihat diri kami sendiri. Bagi kami, JHF adalah realitas, bukan sekedar produk yang diciptakan, kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami selalu percaya, bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukkan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa. Seluruh penonton di auditorium itu menangkap energi yang kami berikan, hingga meninggalkan kursi dan berdiri untuk bergoyang mengikuti hentakan musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa.
Seni selalu bisa menjebatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri.
Seperti halnya seniman tradisional yang agraris, kepada musik, kepada panggung, kami selalu percaya. Bukan kepada yang lain.
Seminggu di New York, adalah bingkai waktu yang spesial bagi kami, ini adalah kota dimana rap musik dan kultur hip hop lahir. Orang menyebutnya perjalanan ke New York adalah naik haji ala hip hop.
Seluruh crew JHF sangat senang bisa menghadiri block party di distrik Bronx, dimana rap musik lahir di sana, berfoto bersama legenda, dan menikmati attitude yang kasar khas distrik tersebut.
Selain itu kami juga menyempatkan diri membuat klip dengan mengambil lokasi di Time Square NYC, bernyanyi di tengah kerumunan dan mengundang perhatian publik. Kami benar-benar menguasai ruang publik itu. Sebuah komentar twitter saya pinjam untuk menggambarkan situasi ini;
“a Java Hip Hop Crew with Batik shirt, oversized pant, with no lots of jet leg, hit Time Square NYC”.
Pada dua hari terakhir, teman-teman berbelanja seperti orang gila. Membeli aneka cindera mata untuk orang-orang tersayang. Seolah tidak ada hari esok, seolah kami tidak akan bisa kembali lagi ke New York.
Namun oleh-oleh yang paling menggembirakan adalah proposal dari Center Stage US, sebuah program yang menawarkan proposal tour 10 kota untuk JHF tahun 2012.
Sepulang dari New York, kami merencanakan sebuah konser di tengah kampung dengan sound system seadanya, dari sana kami berasal.

Mengapa hiphop identik dengan budaya masogini ???


Mengapa Hip Hop Identik dengan Budaya Misogini?

Selain identik dengan penampilan “blink-blink”, Hip Hop juga identik dengan harta yang melimpah, lifestyle yang tinggi, dan wanita-wanita sexy. Bahkan, tak jarang musisi Rap juga turut tersandung kasus kekerasan terhadap wanita. Namun, banyak orang yang belum mengetahui tentang istilah bagi hal-hal tersebut. Tidak sedikit juga yang penasaran dengan alasan dibalik terbangunnya citra Hip Hop sebagai aliran musik kelas atas. Untuk menjawab rasa keingintahuan pembaca Hiphopindo.NET, kita akan membahas lebih dalam tentang budaya “mewah” dalam kehidupan pelaku Hip Hop di dunia internasional yang dikenal dengan sebutan MISOGINI.
Misogini dalam budaya Hip Hop lebih mengacu pada lirik, video, atau aspek lain dari budaya Hip Hop yang mendukung, memuliakan, membenarkan, atau menormalkan objektifikasi, atau eksploitasi wanita. Misogini muncul pada musik Rap di akhir tahun 1980-an, dan sejak itu menjadi “fitur konstan” dari artis-artis Hip Hop kebanyakan. Hip Hop memiliki pengaruh besar pada budaya populer modern melalui media massa, video klip, siaran radio, dan berbagai media lainnya. Tak heran, musik Rap menjadi musik bergenre paling populer ke-8 di dunia. Sedangkan, Gangsta Rap merupakan subgenre paling sukses secara komersial dalam musik Hip Hop yang sering dikritik karena terkait dengan misogini.
girlslikegiants.wordpress.com
Alasan misogini menjadi tanda “keaslian” untuk beberapa rapper yang menggunakan lirik misoginis dan penggambaran kekerasan terhadap perempuan adalah untuk membuktikan bahwa mereka merupakan gangsta otentik. Banyak seniman Rap yang melihat wanita dengan rendah sebagai cara untuk menegaskan sisi maskulinitas mereka. Rapper sering dianggap “lunak” dan “palsu” jika mereka menjauhkan diri dari hypermasculine diri sebagai penggambaran dan representasi bermusuhan terhadap wanita. Artis Hip Hop juga dapat menggunakan lirik tersebut untuk meraih sukses secara komersial. Pada 1990-an, penonton mulai menuntut lirik yang lebih ganas dan ofensif sehingga para eksekutif produser rekaman mendesak seniman untuk menulis lirik mereka dengan gaya mereka sendiri.
Adams dan Fuller (2006) menunjukkan bahwa salah satu alasan mengapa artis Rap menggunakan lirik misoginis dalam musik mereka adalah bahwa mereka telah menginternalisasi stereotip negatif tentang wanita yang lazim dalam masyarakat Amerika. Berbagai penulis berpendapat bahwa misogini dalam budaya Hip Hop hanya hasil penerimaan dari budaya misogini yang besar. Sependapat dengan Adams dan Fuller, Michael Eric Dyson menyatakan bahwa kebencian terhadap kaum wanita adalah tradisi dari Hip Hop Amerika yang berasal atas pemahamannya mengenai bagaimana pria dan wanita harus bersikap.
Demikian pula Charlise Cheney berpendapat bahwa misogini Hip Hop dan promosi peran gender tradisional mencerminkan arus utama dari nilai-nilai Amerika. Jeff Chang dan David Zirkin mengatakan bahwa kebencian terhadap kaum wanita yang masih ada memang terdapat dalam budaya populer Amerika yang menuntut insentif bagi pemuda sebagai warna untuk bertindak keluar dari maskulinitas hardcore. Kate Burns berpendapat dalam nada yang sama bahwa wacana budaya Hip Hop telah dibentuk oleh lingkungannya, yang menanyakan “Apa pengaruh Rap terhadap masyarakat dan budaya Amerika?” maka para kritikus harus bertanya “Apa peran masyarakat dalam membentuk dan mempengaruhi Hip Hop?” .
Rihanna dianiaya oleh kekasihnya sendiri, Chris Brown (swaggernewyork.com)
Akademik Leola Johnson menegaskan bahwa lirik misoginis dari Gangsta Rap memang sebuah ekspresi kebencian, tapi mereka tidak mewakili tren baru dalam budaya “hitam” yang populer, juga tidak berbeda secara fundamental dari seorang wanita ketika membenci wacana yang umum di antara pria “putih”. Bahaya wawasan ini adalah bahwa mungkin dibaca sebagai permintaan maaf untuk “Black Misogini”. Perlakuan terhadap wanita di Hip Hop untuk hubungan gender cukup bermasalah antara masyarakat kulit hitam dan Hispanic. Dalam sebuah studi etnografi lingkungan pusat kota Philadelphia, Elia Anderson menemukan bahwa pria muda di lingkungan tersebut mencoba untuk meningkatkan status sosial dan harga diri dengan merendahkan dan mengeksploitasi wanita.
Snoop Dogg berpose bersama dua wanita sexy (nbpa.info)

Tapak Tilas Abdi Dalem KALIPSO (KASULTANAN HIPHOP SOLO)





Sebelum ada Kalipso, komunitas rap di Solo berawal dari Kompetisi Rap yang diadakan tahun 1993. Para finalis akhirnya membentuk grup rap C.A.T . C.A.T Hip Hop Rapper Crew beranggotakan : Cat Meg, Doddy Bass, Laudy Luke, Afiblek, Berly Bird, Bagus, Herry, Tondy, Ari. Setelah sering naik panggung sana-sini, C.A.T diminta Donnie Beat untuk mengisi program radio SASFM yaitu 'Rap It Up', satu-satunya program hiphop di solo pada saat itu. Program radio hip hop 'Rap It Up' menjadi barometer musik rap kota solo yang pada saat itu sangat minoritas. Setelah Donnie Beat, Cat Meg, Doddy Bass, host program 'Rap It Up' SASFM yang terakhir adalah Afiblek sampai denggan tahun 2001. Program radio 'Rap It Up' akhirnya menjadi tempat kumpul rapper2 solo seperti Aji Double Jee a.k.a Adrenoise Jee, Papie Slim, Addin 213, Andre, Lady Gan dll. Pada tahun 1998 nama Kasultanan HipHop Solo ( KALIPSO ) baru resmi dipakai sebagai tempat bernaung. Big thanks and respect to Donnie Beat, Rap It Up dan SAS FM yang membuat komunitas rap berkembang di solo dari C.A.T hingga KALIPSO ,,,, hell yeah!!!!!!!!!!!!
Pertengahan tahun 2002 saat musik hiphop sedang diatas angin, Kalipso justru menghilang begitu saja, tenggelam entah kemana. Mungkin pada waktu itu tidak ada penggerak semangat untuk menjalankan komunitas ini, atau mungkin para anggotanya sibuk dengan pekerjaan, kuliah dan urusan pribadi masing-masing. Jadi Kalipso pada saat itu terbengkalai begitu saja tanpa ada kelanjutan.
Setelah hampir 6 tahun Kalipso mengalami mati suri, pada awal 2008 sebagian rapper yang masih aktif dari tahun 2000an sampai sekarang, seperti Adrenoise Jee (Tha Nomen Nisco), Papie Slim (FUclan/TrahGali Soulja), merasa perlu untuk membuat sebuah wadah di kota solo untuk orang-orang yang masih berjuang dalam dunia hiphop. Dan saat itu didukung oleh Mas Burhan (Kaisar Band) Ababil Studio yang memberikan tempat untuk para rapper berkumpul dan mengadakan acara hiphop movement untuk setiap bulannya. Keinginan itu muncul dengan tujuan yang sama,yaitu memberikan wadah bagi para pelaku hiphop dikota solo sebagai tempat saling bertukar pikiran, tukar pengalaman dan menjalin persaudaraan. Selain itu juga agar orang luar tahu HIPHOP KOTA SOLO MASIH ADA DAN AKAN TETAP SELALU ADA. Maka dari itu kami semua sepakat untuk menghidupkan kembali Kalipso sebagai bendera hiphop kota solo. Diharapkan dengan adanya sebuah wadah seperti KALIPSO, hiphop di solo bisa lebih akrab ditelinga masyarakat luas, lebih maju dan berkembang. Dan tidak menutup kemungkinan dengan adanya Kalipso merangsang munculnya para pejuang hiphop yang baru.
Dengan bergabungnya beberapa DJ, crew BreakDance, Beatbox dan Graffiti kedalam Kalipso, membuat suasana tidak monoton dan sangat berbeda dalam setiap acara hiphop movement yang diadakan oleh Kalipso. Dan tidak bisa dibilang sedikit para abdi dalem Kalipso sampai saat ini. Terhitung sudah 25 grup rap dan solo rapper, 2 crew beatbox, 5 crew breakdance, 2 crew graffiti, dan 2 DJ. Kalau ditotal per orang mungkin sudah 60 orang lebih anggota yang ada dalam Kalipso. Di dalam Kalipso setiap anggota tidak hanya sebatas bermusik tapi juga belajar bagaimana menghargai orang lain, belajar mencari sahabat, belajar saling membantu satu sama lain, belajar untuk berorganisasi dan bertanggung jawab akan tugas masing-masing didalam komunitas ini. Maka dari itu di Kalipso ada sebuah struktural kepengurusan, mulai dari ketua umum, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan lain sebagainya selayaknya sebuah organisasi (mungkin akan jadi parpol kalo banyak pendukungnya hahahaha)
HipHop? Rap? Hentakkan beat ciri khas musik rap ala Run DMC, 2pac, I.C.P, Cypress Hill, dan hingga Eminem mungkin sudah tidak asing lagi buat para telinga-telinga masyarakat Indonesia soal musik hiphop. Tapi bagaimana dengan lirik lagu berbahasa jawa dan bermacam-macam instrument alat musik tradisional jawa yang dikawinkan dengan musik hiphop?? Hhmmmm mungkin itu masih terdengar asing disebagian banyak orang. Warna kejawen (berbau jawa) itu yang menjadi salah satu ciri khas menonjol lagu-lagu dari para rapper Kalipso tapi tidak hanya lagu rap yang seperti itu yang ada dalam tubuh Kalipso. Banyak jenis musik rap dalam Kalipso lainnya seperti Slow Jamz, Dirty South, Crunk, Reggaeton, dan tema lagu yang diambil juga bermacam versi seperti soal cinta, kehidupan pribadi yang lucu bahagia hingga susah, kritikan sosial politik yang berlirik tajam dan tegas, atau hanya sekedar tema sederhana kegiatan sehari-hari, bahkan ada juga yang bikin lagu rap dangdut dengan meremix lagu dangdut yang sudah ada tanpa menghilangkan idealism hiphop itu sendiri tentunya. Semua itu keluar dengan sendirinya dari setiap individu yang berbeda, dan itu menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi Kalipso. Untuk memudahkan mencari lagu-lagu abdi dalem Kalipso silahkan berkunjung ke http://www.reverbnation.com/kalipsokasultananhiphopsolo . Hampir semua lagu abdi dalem Kalipso ada di situs itu (tidak ada unsur promosi lho ini, hanya sekedar memudahkan teman-teman dalam mencari karya-karya kami hehehehehe).
Beberapa rapper di Kalipso seperti FUclan, Tha Nomen Nisco, TrahGali Soulja, Semprong Bolong, S.T.P, TDU, Rendy Jerk, dll, sering juga menjadi opening acara-acara besar yang diadakan di kota solo. Kalipso sendiri setiap bulan selalu mengadakan acara hiphop movement, dengan tujuan agar tali persaudaraan semakin erat dan selalu terjaga dengan baik dan memicu agar setiap individu di Kalipso selalu berkreasi membuat karya-karya yang baru (ga mungkin kan setiap bulan manggung kok lagunya ituuuuuu muluuuu hohohohoho). Selain itu setiap hari minggu pagi juga para raper Kalipso bergantian memeriahkan di Car Free Day dengan dentuman musik hiphop dibeberapa sudut jalan Slamet Ryadi yang diadakan oleh PEMKOT Solo. Bagi kami semua itu adalah sebuah penghargaan dan bonus dari hasil karya perjuangan kami dalam antah berantah dunia hiphop di Indonesia.
Kalipso selalu terbuka bagi siapa saja dan genre musik apa saja untuk berbagi pengalaman dan bertukar pikiran, walaupun Kalipso bertitik berat pada HIPHOP tapi bukan berarti Kalipso hanya melihat hiphop semata untuk melangkah. Komunitas ini didirikan oleh banyak orang dan diperuntukkan untuk banyak orang pula, jadi kami selalu membuka pintu lebar-lebar untuk siapa saja yang ingin bergabung berjuang bersama memperjuangankan hiphop dengan syarat berdomisili di kota solo dan sekitarnya. Dan perlu banyak orang ketahui bagi kami “musik adalah musik”, untuk didengar dinikmati dan mengungkapkan segala isi hati, jadi semua musik tidak lah berbeda, hanya penyampaiannya saja dan format yang beda dari setiap musik, tapi intinya??? Semua musik dan lagu sama saja kan??? Jadi Kalipso anti mengkotak-kotakkan genre musik, semua sama, berjuang dalam jalan yang berbeda tapi bertujuan pada satu titik temu yang sama. “Penghargaan terbesar dalam hidup bukan lah saat orang lain menghargai kita, penghargaan terbesar dalam hidup adalah disaat kita bisa menghargai orang lain”.
“Menjadikan setiap perbedaan menjadi satu kekuatan”, mungkin kalimat itu yang membuat Kalipso semakin solid dari hari ke hari. Bagi kami hiphop sudah menjadi bagian dari hidup kami yang tak mungkin hilang begitu saja, bisa dikatakan hiphop adalah harga diri kami. Ini semua adalah sebuah perjuangan dan peperangan yang tak akan ada akhirnya. Bukan bagaimana cara kita berjuang tapi untuk apa kita berjuang, bukan bagaimana cara kita berkorban tapi untuk apa kita berkorban, dan bukan bagaimana cara kita berperang tapi untuk apa kita berperang…… HipHop Ngantos Pejah ……



sejarah singkat INDOBEATBOX



Seni meniru bunyi-bunyi yang menekankan pada alat musik pukul seperti drum atau perkusi sering kali kita saksikan di layar kaca maupun pertunjukkan musik lainnya. Seni ini, disebut sebagai beatbox oleh Willem Carolus Christopherson Tamnge atau biasa disapa Billy. Dan, dari ide Billy pula, terbentuk sebuah komunitas Beatbox Indonesia.
Billy menelurkan ide tersebut bersama salah satu personil Fade to Black yang pandai ngerap, Tito. Mereka bertemu setelah Billy mengikuti program talent show bertitel Gong Show di televisi swasta. Kemudian mereka janjian membuat komunitas Jakarta Beatboxing Community pada 4 Desember 2007.
Komunitas ini merupakan tempat kumpulnya beatbox di Jakarta dan baru sebatas group. Anggotanya, kebanyakan dari fans berat Fade to Black.
Kerap ngumpul, berinteraksi dan berbagi ilmu..“Seiring perkembangan waktu berganti nama menjadi The Indonesian Beatboxing Community atau disingkat Indobeatbox Community pada April 2008,” imbuh founder Indobeatbox Community, Billy kepada TNOL di Taman Menteng kemarin.
Berubahnya nama lantaran banyak fans Fade to Black berasal di luar Jakarta seperti Bandung, Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya. Meski  berubah nama,  komunitas ini belum menetapkan tanggal resmi mereka berdiri. Maklum, mereka baru sebatas melakukan kegiatan di Friendster.
Itupun, anggotanya hanya 20-an orang. Tak heran, masing-masing anggota jarang bertatap muka. Termasuk Billy dengan Tito. Mereka baru bertemu kembali, ketika ada pemutaran film Eropa di Goethe Haus pada 30 Oktober 2008.
“Disana kita meresmikan komunitas Indobeatbox Community. Tanggal tersebut pun menjadi ulangtahun komunitas ini,” ucap Billy.
Mampu menirukan beragam alat musik..Mereka juga membuka akun di jejaring sosial lainnya. Berdasarkan data Facebook, kata Billy, anggota Indobeatbox Community mencapai 7000 orang. Dari 7000 orang, 50 persennya adalah fans berat Black to Fade yang tergabung dalam Respektor.
Dengan begitu, anggota mereka tidak seluruhnya bisa Beatbox. Komunitas ini tidak memiliki ketua, namun memiliki manager yang mengurus seluruh anggota di Indonesia. Disamping itu, ada kordinator di tiap-tiap daerah. Selama terbentuk, komunitas ini memiliki berbagai kegiatan. Antara lain, perform di acara-acara musik, charity, pensi, lauching produk maupun memeriahkan acara di mall.
Uniknya, mereka tidak mencari job tersebut. Justru, pekerjaan itu singgah sendiri ke tangan mereka karena pihak yang mengundang telah melihat aksi komunitas ini di televisi, radio dan YouTube.
“Saya pernah setengah tahun perform di televisi bersama Fitri Tropika,” terang Billy. Melalui perform di berbagai tempat, mereka memiliki dana operasional sehingga dapat menunjang kegiatan komunitasnya. Mereka menyisihkan sekitar lima persen dari penghasilan untuk kas.
Selalu terbuka sebagai komunitas..Nah, bagi Anda yang berminat menjadi anggota bisa gabung di grup mereka atau bisa datang langsung ke tempat komunitas Beatbox terdekat tanpa dikenakan biaya. Di Jakarta, komunitas ini kerap kumpul di Taman Menteng setiap Rabu malam, mulai pukul 20.00 WIB.
Ketika kumpul, mereka membawa peralatan-peralatan Beatbox seperti sound system, mikrofon dan speaker lantaran kegiatan kumpul mereka adalah saling sharing tentang teknikal skill Beatbox.
Bagi yang ahli Beatbox, mereka tak sungkan mengajari anggota-anggota yang belum bisa. Saat kumpul, komunitas ini tidak mengenakan seragam. Mereka membebaskan anggotanya mengenakan kostum apa saja. (Subhan)